Siluet untuk Mentari Esok | catatan BIAS

 

SELAMAT terbang penumpang BIAS Airlines. Pastikan sabuk pengaman Anda terpasang dengan kencang, karena kita akan terbang mengelilingi dunia dan memutar waktu, kembali ke zaman saat  pemuda memiliki karakter luar biasa.

Rasanya malu, kalau harus membandingkan perjuangan pemuda sekarang dengan sebelum era abad 20, baik perjuangan untuk negara maupun perjuangan untuk umat. Melihat kehidupan yang serba modern, serba konsumtif, serba berisi tokoh-tokoh pengincar popularitas dan material, perjuangan era ini tidak sebanding dengan  yang dilakukan pemuda pada zaman itu.

Kita tengok ke zaman di mana pemuda ikut berjuang, menjadi bagian dari perubahan bangsanya, bahkan perubahan dunia. Lihat Usamah bin Zaid, yang di usia 18 tahun sudah menjadi panglima perang dan berhasil mengalahkan musuh Rasulullah. Juga Ibnu Sina yang sejak umur 17 tahun giat mempelajari ilmu kedokteran. Tak hanya itu, Agus Salim dan juga Kartini yang memperjuangkan pendidikan Indonesia di usia mudanya.

Tapi,  eitss!! Bukan berati tidak ada sama sekali yang bisa diperjuangkan sekarang. Saat ini kesadaran akan isu-isu tersebut hanya dimiliki oleh kalangan terbatas saja. Kalangan yang peduli sedikit jumlahnya.

Pemuda-pemuda bertauhid yang berjiwa besar, dari berbagai macam latar belakang bersatu ,dan memiliki satu visi, yaitu menjadi representatif muslim yang mampu menyebarkan syariat islam dengan benar dan cara-cara yang kreatif dan syar’i.

Hanya ada satu solusi untuk mengembangkan semangat ini, yaitu dengan menjunjung tinggi nilai-nilai Al-Qur’an dalam menjalani hidup dan bermasyarakat.

SMA BIAS  akan membawa Anda menelaah kembali isu tersebut dengan pertunjukan seni, kolaborasi ekstrakurikular selama KBM yang ditekuni oleh siswa/i SMP-SMA BIAS. Dimulai dari pertunjukan opening act oleh tim paduan suara dan pantomim, yang kemudian dilanjutkan dengan Pementasan Teater dengan sedikit mukjizat musik live. Enjoy your flight… (adv)