Belajar Dari Film Nyai Ahmad Dahlan

Senin sore yang lalu (11 September 2017), seluruh ustad dan ustadzah sekolah BIAS Yogyakarta difasilitasi pihak managemen untuk menonoton bersama (Nobar) film Nyai Ahmad Dahlan, di gedung bioskop XXI, Jl. Urip Sumohardjo.

Satu gedung bioskop XXI Full di booking oleh BIAS, mirip sedang ada pengajian, dan itu pengajian untuk menyimak perjuangan seorang wanita yang luar biasa bernama Walidah, yang kemudian dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, yang salah satu seorang pahlawan nasional (yang diperankan oleh Tika Bravani).

Nyai Ahmad Dahlan adalah seorang wanita bersahaja dari Kauman Yogyakarta, anak seorang Ulama Keraton Ngayogyokarto bernama KH. Muhammad Fadli (Cok Simbara) kemudian dinikahkan dengan seorang pemuda bernama Muhammad Darwis, sepulangnya dari Makkah, yang kelak bernama KH Ahmad Dahlan (David Chalik) pendiri Muhammadiyah.

Melalui film ini, misi yang hendak disampaikan oleh BIAS adalah untuk menanamkan ruh perjuangan untuk para pendidiknya. Bagaimana seorang Ahmad Dahlan dalam situasi yang terbatas dan penuh tantangan, tetap bergerak, berjuang mengajarkan islam, memurnikan nilai-nilai tauhid di tengah masyarakat, didampingi seorang istri, yang ikut merasakan suka dan duka, serta ikut menanggung perjuangan suaminya.

Dikisahkan, bagaimana Ahmad Dahlan dalam kehidupannya, waktu dan pemikirannya banyak tercurah untuk menyebarkan gagasannya dengan pengajian, rapat rapat dan kunjungan ke daerah daerah. Disanalah drama pengorbanan keluarga dan pergulatan pemikiran membersamai kehidupan Kiai dan Nyai Ahmad Dahlan.

Pada fase awal pendirian sekolah Muhammadiyah, timbulah problem bahwa kelangsungan pendidikan ini perlu dibiayai, untuk itulah KH. Ahmad Dahlan rela menjual perabotan dan harta lain yang beliau punya kepada tetangganya. Bahkan Nyai Ahmad Dahlan menyerahkan perhiasan simpanannya untuk ikut mendukung perjuangan suaminya.

Menanamkan ruh perjuangan ditengah kepungan pandangan hidup yang materialistik dan hedonis bukanlah pekerjaan mudah di era sekarang ini.

Orang sekarang dituntut harus hidup terpandang dengan hidup simbolisasi yang serba benda. Hidup itu sederhana, lulus sekolah, dapat pekerjaan, berumah tangga hidup mapan, dan dapat pensiun. Hidup itu untuk nyaman tidak perlu ikut repot terlibat perubahan sosial, ibadah hanya ritual dan seterusnya.

Cara pandang hidup seperti ini akhirnya mengikis jiwa berkorban, kepedulian dan menjauhkan dari sikap kepejuangan, sebagaimana dicontohkan para nabi dan seperti halnya kehidupan KH. Ahmad Dahlan dan istrinya Nyai Ahmad Dahlan.

Memiliki jiwa kepejuangan itu syarat yang harus dimiliki oleh para pendidik, seperti halnya para ustad dan ustadzah di BIAS. Karena mereka ikut terlibat dalam gerakan dakwah untuk mendidik, menyiapkan generasi Sholeh. Itulah misi yang hendak ditanamkan dengan menonton kisah hidup Nyai Ahmad Dahlan.

Orang kadang tidak memahami dan tidak bisa memetik pelajaran, bagaimana masa masa sulit, penuh pengorbanan dan penderitaan, diman sebuah gerakan dakwah itu bermula.

Apa yang ada di benak kita, ketika Muhammadiyah sekarang telah memiliki lebih dari 10 ribu lembaga pendidikan, dengan 177 Perguruan Tinggi yang menyebar keseluruh nusantara??

Itulah pengorbanan dan perjuangan dengan melewati masa masa sulit, yang telah dijalani Kyai Haji dan Nyai Ahmad Dahlan, dan kemudian diteruskan oleh kader kadernya.

Orang kadang tidak bisa mengambil ibroh dari sebuah peristiwa, sekedar mengagumi tokoh saja tanpa mengerti kepeloporan dan mencontohnya, atau hanya meniru kulitnya dengan jalan pintas dan pragmatis, tanpa mau belajar dari nilai perjuangannya.

Terlepas dari kritik film yang seharusnya bisa digarap lebih bagus, film Nyai Ahmad Dahlan adalah film kultural edukatif, tontonan sekaligus bisa memberi tuntunan.

Dari spirit perjuangan Nyai Ahmaad Dahlan, mudah mudahan jiwa kepeloporan dan pengorbanan senantiasa membersamai langkah kehidupan kita. Amiin ….

(Boedi Dewantoro)

Posted in SIBIBIAS-News.